MESIN PENCARI GOOGLE
JIKA ANDA PEDULI DENGAN BLOG INI KLIK IKLAN DIATAS !!!
IF YOU CARE TO THIS BLOG CLICK THIS AD above !!!

Thursday, September 20, 2007

Deteksi Gempa Masih Teka-teki

Ahli gempa mengatakan, bahwa sangat sulit mendeteksi gempa. Tidak cukup hanya data, tapi masih banyak faktor yang perlu diperhitungkan, selama ini kondisinya hanya bisa meramalkan.

Pada September 2004 silam, di sebuah negara bagian di Califiornia AS terjadi gempa berkekuatan 6.0 pada skala Richter, sehingga membuat ahli tektonik yang mengawasi dengan seksama terkejut. Dimana sebelumnya tidak ditemukan tanda-tanda akan terjadi gempa. Setelah kejadian para ahli mencoba mengkalkulasi ulang data gempa sebelumnya namun tidak ditemukan apapun. Tapi gempa itu tiba-tiba terjadi. Begitu juga dengan gempa yang terjadi setelahnya, seperti gempa dia Asia Tenggara dan Asia Selatan baru-baru ini..

Moony dari lembaga studi geologi ketika sidang di PBB menuturkan, bahwa retakan setiap terjadi gempa selalu ada karakteristiknya. Seperti tubuh manusia yang memiliki organ yang tidak sama. Mendeteksi gempa bagaikan meramal hidup manusia, banyak hal yang bisa menyebabkan tiba-tiba terjadi

Peneliti Jepang setelah 20 tahun bekerja telah berhasil mengembangkan sistem untuk dapat memberikan peringatan dini gempa. Dengan mendeteksi waktu dan intensitas gempa melalui getaran halus awal gempa. Sistem ini diaktifkan pada awal Agustus lalu. Badan Meteorology Jepang menyediakan layanan “laporan kilat gempa” untuk sejumlah instansi terkait. Dengan demikian Jepang merupakan negara pertama di dunia yang menerapkan sistem tersebut yang ditujukan pada masyarakat di seluruh negeri.

Karena kecepatan konduksi gelombang P lebih cepat pada saat terjadi gempa (kecepatan detik kurang lebih 7 km), dan yang datang seiring dengannya baru dapat menimbulkan gelombang S getar dalam skala besar (kecepatan detik kurang lebih 4 km), saat gelombang P terdeteksi, dan dengan memanfaatkan selisih waktu keduanya, dapat menyalakan sinyal peringatan, agar masyarakat luas dapat mengantisipasi dan menghindari bencana. Sasaran penerapan laporan kilat ini meliputi universitas, rumah sakit, pabrik, perusahaan kereta api dan 41 kelompok perusahaan serta badan terkait.

Pada Agustus tahun lalu, sistem peringatan gempa ini pernah di uji coba, ketika itu terjadi gempa dahsyat 7.2 skala Richter di Samudera Pasifik. Sistem ini berhasil menyampaikan peringatan ke sebuah sekolah dasar 14 detik sebelum gempa terjadi. Kala itu gempa ini menyebabkan 60 orang terluka dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Jika sumber gempa berada di dasar laut, masih memungkinkan memperingatkan dalam waktu puluhan atau bahkan kurang 10 detik. Setelah trem listrik yang berada dalam perjalanan menerima laporan kilat tersebut, segera akan membunyikan sirene, memperingatkan pengemudi menghentikan kendaraan atau kereta.

Sistem ini paling lama hanya bisa memberikan waktu sekitar 20 detik untuk mengungsi, jika sumber gempa berada di sekitar, mungkin harus menunggu gelombang gempa sampai di permukaan kemudian baru bisa menyalakan alarm. Namun, jika bisa lebih awal beberapa detik diperingatkan, maka itu akan dapat membuat orang-orang tahu bahwa gempa dahsyat akan menerjang, sekaligus dapat segera menghentikan kereta ekspres.

(Sumber Dajiyuan)

0 komentar: